Kegiatan roan yang dilakukan di pondok pesantren-pondok
pesantren salafiyah di Yogyakarta menjadi tradisi yang mengakar sangat kuat.
Dua pesantren di Yogyakarta,yakni Pesantren Al Munawwir dan Pesantren Ali
Maksum, mewajibkan santrinya untuk mengikuti kegiatan ini, dan apabila
melanggarnya akan dikenakan sanksi.
Biasanya para santri setiap hari Jumat yang merupakan
hari libur pondok, melakukan kegiatan rutin yaitu bersih-bersih pondok
pesantren. Ya, nama kegiatan ini biasa dikenal di kalangan pesantren adalah
roan, di mana para santri turun langsung membersihkan halaman pondok pesantren
dan arena ndalem (rumah kiai).
Setiap santri diberi tugas tertentu, ada yang mencabuti
rumput, membersihkan halaman, membuang sampah, menata kitab-kitab. Para santri
menyambutnya dengan riang gembira, karena hal ini bagi mereka merupakan upaya
ngalap berkah dari kiai.
Pengurus Pondok Pesantren Nailul Ula Center,
Plosokuning, Sleman, Muhammad Maftuhan mengatakan kegiatan roan menjadi
kebiasaan yang sudah biasa dilakukan oleh para santri-santri sebelumnya dan
tetap dipertahankan hingga sekarang.
"Dengan tujuan agar santri-santri disiplin dan
peduli dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya," katanya beberapa
waktu lalu.
Dalam kegiatan roan, apabila ada santri yang belum menyelesaikan
tugasnya maka santri yang lain akan ikut membantu. Jika sudah selesai semua, para santri akan
membersihkan kamar mereka masing-masing dengan sistem per blok.
"Mereka semua menikmatinya, bahkan dengan diselipin
canda tawa yang membuat mereka tidak akan merasakan lelah," tambah
Maftuhan.
Kelelahan benar-benar hilang ketika hidangan makanan
dihidangkan di hadapan mereka. Bisanya makanan disajikan dalam nampan-nampan,
di mana setiap nampan berlaku untuk lima orang.
Walau sederhana, roan nyata bermanfaat bagi pondok
pesantren dan bagi santri sendiri. Dengan adanya kegiatan rutin ini diharapkan
juga bisa memberikan dampak yang positif untuk kehidupan santri di kemudian
hari setelah lulus dari pondok pesantren. Santri mampu mengamalkan hidup disiplin,
gotong-royong dan solidaritas antar kawan.
Alumni Nailul Ula Center, Plosokuning, Sleman,
Yogyakarta mengatakan roan memiliki makna yang begitu dalam bagi santri.
"Kegitan ini bertujuan membersihkan yang tampak,
sekaligus diniati membersihkan hati dari ria, takabur dan dengki," ungkapnya. (Galih Maryanuntoro/Kendi
Setiawan)



0 Komentar