KH Marzuqi Mustamar, Ketua PWNU Jawa
Timur berpesan kepada masyarakat untuk tidak mudah ikut-ikutan dalam praktek
beragama. Semua harus dilandasi oleh ilmu. Sebagai generasi NU, yang mengenyam
pendidikan pesantren, harus tetap menjaga identitas ke-NU-annya, yakni
menjalankan syariat berlandaskan ilmu dari pesantren. Pesan ini disampaikan
Kyai Marzuqi pada acara Liwetan Akbar Lintas Generasi NU malam kemarin (29/Januari/2019) di Pesantren
Sabilurrasyad, Gasek, Malang.
Kadang dijumpai di masyarakat, jika orang
khutbah tidak pondokan NU, melalaikan rukun khutbah. Misalnya wasiat taqwa
tidak disampaikan khatib pada khutbah kedua. Pada khutbah pertama hilang shalawatnya.
Kalau khutbahnya tidak sah, maka shalat jum’atnya juga tidak sah. Inilah yang
dikhawatirkan, jika para khatib tidak memahami ilmunya.
Maraknya khutbah di beberapa kota
tertentu khutbah tampak seperti orasi politik juga mendapat sorotan beliau.
Banyak pesan kebaikan, pesan ketaqwaan jadi hilang. Inilah kemudian memunculkan
persepsi masyarakat kalau yang khutbah bukan NU, khutbahnya tidak sah.
“Supaya khutbah-khutbah, jum’ah sah,
maka sebaiknya imam-imam NU semua. Supaya
akad nikah sah, dijamin sah, KUA-KUA kalau bisa NU semua”, demikian penagasan
Kyai Marzuqi Mustamar, yang juga pengasuh pesantren Sabilurrasyad, Gasek,
Malang. Namun demikian, beliau juga menghimbau kepada mereka yang semula
khutbahnya kurang memenuhi rukun khutbah tidak usah ngamuk, gak usah emosi, toh masih seagama, masih sebangsa. Kalau
bertengkar, nanti yang rugi juga bangsa Indonesia. Beliau mengingatkan siapa
saja yang merasa khutbahnya tidak memenuhi keabsahan menurut NU, maka sebaiknya
diupayakan memenuhi syarat rukunnya saja agar sah.


0 Komentar